Karena
itu, memahami cara ekspor makanan ke luar negeri secara benar bukan pilihan,
melainkan keharusan.
1. Analisis Masalah Utama dalam Ekspor Produk
Makanan
Cara Ekspor Makanan ke Luar Negeri
Banyak
pelaku usaha mengira ekspor makanan cukup dengan “kirim barang ke luar negeri”.
Asumsi ini keliru. Produk makanan menyentuh aspek sensitif: kesehatan,
keamanan pangan, dan standar konsumsi manusia.
Tantangan
utama ekspor makanan meliputi:
- Regulasi keamanan pangan
yang berbeda tiap negara
- Persyaratan izin dan
sertifikasi
- Ketahanan produk selama
pengiriman
- Label dan komposisi bahan
- Risiko penolakan di negara
tujuan
Tanpa
persiapan matang, peluang ekspor justru berubah menjadi kerugian.
2. Asumsi Tersembunyi: Semua Makanan Bisa Diekspor
Tidak
semua produk makanan bisa langsung diekspor. Beberapa jenis makanan:
- Mengandung bahan yang
dilarang di negara tertentu
- Tidak tahan lama tanpa
pengawet atau cold chain
- Tidak memenuhi standar
sanitasi internasional
Contohnya,
produk yang mengandung alkohol, bahan hewani tertentu, atau pewarna sintetis
bisa ditolak di beberapa negara. Maka, langkah pertama dalam cara ekspor
makanan ke luar negeri adalah memastikan produknya layak ekspor, bukan
sekadar laku di pasar lokal.
3. Persiapan Produk Sebelum Ekspor
Tahapan
persiapan ini bersifat fundamental dan tidak bisa dilewati.
a.
Pastikan Produk Memiliki Legalitas Dasar
Minimal produk makanan harus memiliki:
- NIB (Nomor Induk Berusaha)
- Izin edar (PIRT atau BPOM,
tergantung jenis produk)
- Sertifikat Halal (jika
dibutuhkan pasar tujuan)
Tanpa
ini, proses ekspor hampir pasti terhenti di bea cukai.
b.
Perbaiki Kemasan dan Daya Tahan
Kemasan bukan hanya estetika, tetapi alat perlindungan produk. Ekspor makanan
membutuhkan:
- Kemasan kedap udara
- Informasi lengkap
- Ketahanan terhadap perubahan
suhu dan tekanan
4. Menyesuaikan Standar Negara Tujuan
Setiap
negara memiliki otoritas pangan sendiri, misalnya:
- FDA (Amerika Serikat)
- EFSA (Uni Eropa)
- SFDA (Arab Saudi)
Langkah
rasional adalah menentukan negara tujuan terlebih dahulu, lalu
menyesuaikan produk dengan regulasi mereka.
Penyesuaian
biasanya mencakup:
- Bahasa label
- Informasi nutrisi
- Tanggal kedaluwarsa
- Daftar bahan (ingredients
list)
Inilah
alasan mengapa ekspor makanan sering gagal bukan karena rasa, tetapi karena
administrasi.
5. Dokumen Wajib dalam Ekspor Makanan
Secara
umum, dokumen yang sering dibutuhkan antara lain:
- Invoice dan packing list
- Certificate of Origin (SKA)
- Health Certificate atau
Phytosanitary Certificate
- Dokumen kepabeanan ekspor
Dokumen
tambahan bisa diminta sesuai jenis makanan dan negara tujuan. Di sinilah banyak
pelaku UMKM kewalahan jika mencoba ekspor tanpa pendampingan.
6. Pilihan Metode Ekspor: Mandiri atau Lewat Jasa
Dalam
praktiknya, ada dua pendekatan utama:
a. Ekspor
Mandiri
Cocok jika:
- Volume besar
- Sudah memahami regulasi
- Memiliki tim khusus ekspor
Risikonya
tinggi bagi pemula karena kesalahan kecil bisa berdampak besar.
b.
Menggunakan Jasa Ekspor Makanan
Lebih realistis untuk UMKM dan ekspor perdana. Jasa berpengalaman biasanya:
- Memahami regulasi pangan
- Membantu dokumen dan
pengiriman
- Mengurangi risiko penolakan
Secara
logis, menggunakan jasa bukan tanda ketidakmampuan, tetapi strategi mitigasi
risiko.
7. Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
Beberapa
kesalahan fatal dalam cara ekspor makanan ke luar negeri:
- Mengirim sampel tanpa
dokumen
- Mengabaikan izin negara
tujuan
- Menggunakan label bahasa
Indonesia saja
- Salah klasifikasi HS Code
- Tidak menghitung shelf life
selama pengiriman
Kesalahan
ini sering terjadi karena terburu-buru ingin ekspor tanpa pemahaman menyeluruh.
8. Kesimpulan Logis
Cara
ekspor makanan ke luar negeri menuntut pendekatan yang lebih sistematis
dibanding produk biasa. Keamanan pangan, legalitas, dan kepatuhan regulasi
adalah fondasi utama. Produk yang enak belum tentu bisa diekspor, tetapi produk
yang patuh standar punya peluang bertahan di pasar global.
Bagi
UMKM, langkah paling rasional adalah memulai dari skala kecil, memvalidasi
negara tujuan, dan memastikan semua aspek legal terpenuhi sebelum ekspansi
lebih besar.
0 Komentar